Rupiah Melemah ke Rp17.963, Sentuh Rp18.000 Pekan Depan? Ini Kata Analis

Rupiah Melemah ke Rp17.963, Sentuh Rp18.000 Pekan Depan? Ini Kata Analis

ilustrasi (freepik)

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan sepanjang pekan ini. Mata uang Garuda nyaris menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS di perdagangan Jumat kemarin.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.963 per dolar AS pada Jumat, 24 Juli 2026. Angka ini melemah 0,15 persen dibanding hari sebelumnya. Dalam sepekan, rupiah tercatat turun 0,23 persen dari posisi akhir pekan lalu yang berada di Rp17.921 per dolar AS.

Kondisi serupa terlihat pada kurs acuan Bank Indonesia. Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) ditutup melemah 0,32 persen secara harian ke level Rp17.973 per dolar AS. Secara mingguan, kurs ini turun 0,16 persen dari Rp17.944 per dolar AS.

Baca juga: ATSI Sebut Putusan MK Soal Sisa Kuota Internet Sudah Terpenuhi, Produk Rollover Tersedia di Operator

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan ada dua penyebab utama pelemahan rupiah sepekan ini: tekanan eksternal dan kondisi domestik.

Perhatian pasar tertuju pada eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Pasukan AS menyerang sejumlah fasilitas militer Iran. Sebagai balasan, Iran menggempur posisi militer AS di Bahrain, Kuwait, hingga Yordania.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran di Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu merupakan pintu keluar-masuk minyak dunia. Jika terganggu, pasokan minyak bisa tersendat. Akibatnya, biaya pengiriman dan premi asuransi melonjak.

"Ini permusuhan terburuk AS-Iran sejak gencatan senjata April lalu. Pembicaraan damai tampaknya gagal total," ujar Ibrahim dalam risetnya, Sabtu, 25 Juli 2026.

Lonjakan harga minyak mentah ikut mendorong risiko inflasi global. Situasi ini membuat The Fed kemungkinan besar mempertahankan suku bunga acuan tinggi lebih lama. Dolar AS pun semakin kokoh.

Dari sisi domestik, rupiah terbebani oleh pemulihan ekonomi yang lambat. Pertumbuhan ekonomi diprediksi masih di bawah 5 persen. Investasi belum solid. Konsumsi rumah tangga cenderung lesu.

Pelaku usaha memilih menunggu dan melihat (wait and see) sebelum melakukan ekspansi. Ketidakpastian ekonomi dan biaya pendanaan yang tinggi menjadi pertimbangan utama.

Bank Indonesia memang sudah mempertahankan suku bunga acuan. Namun langkah itu dinilai belum cukup untuk mendorong penguatan rupiah.

Baca juga: Pertamina Sumbagut Perketat Monitoring BBM di Aceh, Riau, dan Kepri, Pastikan Pasokan Aman

Untuk perdagangan sepekan mendatang, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.880 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Pasar masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik dan sinyal dari bank sentral AS. Sementara dari dalam negeri, pelaku usaha menanti langkah pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal yang terus berlanjut.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :