Waswas! Iran Lacak Lokasi Personel Militer AS via Kerentanan SS7, CENTCOM Bungkam

Waswas! Iran Lacak Lokasi Personel Militer AS via Kerentanan SS7, CENTCOM Bungkam

ilustrasi (freepik)

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Iran tidak hanya membalas serangan Amerika Serikat dengan rudal. Kini, Teheran disebut mulai melancarkan perang siber dengan menyasar ponsel personel militer AS di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data dari lembaga riset Mobile Surveillance Monitor, Iran diduga memanfaatkan celah keamanan pada jaringan telekomunikasi lawas untuk melacak lokasi perangkat seluler tentara Amerika. Gelombang sinyal mencurigakan itu terdeteksi sejak pecahnya konflik antara AS-Israel melawan Iran pada Februari lalu.

Gary Miller, peneliti keamanan siber sekaligus pendiri Mobile Surveillance Monitor, mengatakan data tersebut mengindikasikan adanya kampanye serangan terkoordinasi. Menurutnya, puluhan ribu personel militer AS yang tersebar di berbagai negara Timur Tengah, termasuk di kawasan Teluk seperti Bahrain, menjadi sasaran.

Baca juga: 4 Anak-anak Jadi Korban Penembakan di Coney Island Saat Malam 4 Juli, Total 8 Orang

"Bahrain yang menjadi lokasi salah satu pangkalan militer AS, mencatat lonjakan permintaan data lokasi yang membanjiri jaringan telekomunikasinya," ujar Miller.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh Financial Times dan dikutip oleh New York Times. Para pakar menilai Iran tampaknya menggunakan sinyal ponsel untuk memburu keberadaan tentara dan kontraktor AS di wilayah tersebut.

Selama bertahun-tahun, jaringan peretas Iran memang kerap memakai serangan siber sebagai alat untuk menunjukkan pengaruh dan mengganggu kepentingan AS. Namun, laporan terbaru ini menunjukkan bahwa kemampuan perang siber Iran kini meningkat menjadi ancaman yang jauh lebih serius.

Data mengungkap bahwa sinyal dikirim melalui protokol SS7 (*Signaling System No. 7*), teknologi telekomunikasi lawas yang dikembangkan pada 1970-an dengan tingkat keamanan rendah. Sinyal itu diduga menyasar ponsel yang terhubung ke jaringan operator lokal, yang kerap digunakan oleh personel militer AS.

Nikita Shah, peneliti keamanan siber dari *Center for Strategic and International Studies* (CSIS), mengatakan bahwa penggunaan celah SS7 oleh Iran menunjukkan peningkatan kecanggihan. "Dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama konflik ini, Iran menjadi sangat kreatif. Ini bukti adanya peningkatan tingkat kecanggihan," kata Shah.

Ia menambahkan bahwa peretas Iran, Rusia, China, dan sejumlah negara lain memang telah lama mengeksploitasi kerentanan SS7 untuk memata-matai target. Tahun lalu, peneliti dari perusahaan keamanan siber Swedia, Enea, juga menemukan perusahaan pengawasan di Timur Tengah yang memanfaatkan celah serupa.

Kekhawatiran juga muncul di Kongres AS. Sejumlah anggota menilai Kementerian Pertahanan AS belum maksimal melindungi personel militer dari ancaman siber. Pada April lalu, Komando Pusat AS (CENTCOM) sempat mengakui adanya "berbagai laporan ancaman" terkait penggunaan data lokasi komersial oleh lawan untuk menargetkan tentara AS.

Baca juga: Memanas! Presiden Negara di Eropa ini Tolak Duta Besar Israel, Protes Kebijakan Gaza

Namun, ketika diminta tanggapan pada Selasa, 14 Juli 2026, juru bicara CENTCOM menyatakan "belum mengetahui laporan tersebut" dan menolak menjawab pertanyaan soal langkah militer AS menghadapi kemampuan siber Iran.

Meski kemampuan siber Iran masih dianggap di bawah Rusia atau China, operasi mereka tetap menjadi tantangan berkelanjutan bagi personel AS, baik di Timur Tengah maupun di dalam negeri. 

Pada Februari lalu, kelompok yang berafiliasi dengan badan intelijen Iran bahkan mengaku bertanggung jawab atas penyebaran email dan foto hasil curian dari akun pribadi Direktur FBI, Kash Patel.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :