Data Center Serbu Batam, Bagaimana Nasib Cadangan Air Bersih Warga?

Data Center Serbu Batam, Bagaimana Nasib Cadangan Air Bersih Warga?

Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews — Kota Batam saat ini tengah berada di pusaran ambisi besar untuk menjadi pusat digital (digital hub) terkemuka di Asia Tenggara. Berbagai raksasa teknologi berbondong-bondong menanamkan modalnya untuk membangun pusat data (data center).

Namun, di balik gemerlap investasi bernilai triliunan rupiah tersebut, Batam menyimpan tantangan besar yang mengancam daya dukung lingkungan:
keterbatasan kapasitas dan keandalan air bersih.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa keterbatasan pasokan air bersih kerap menjadi keluhan di beberapa wilayah Batam yang mengandalkan waduk tadah hujan. Di tengah keterbatasan ini, kehadiran data center—yang secara masif membutuhkan jutaan liter air per hari sebagai sistem pendingin (cooling system) server—tentu memicu kekhawatiran besar.

Apakah air untuk masyarakat akan dikorbankan demi investasi?

Mengapa Data Center Butuh Banyak Air?

Data center mengoperasikan ribuan komputer berkecepatan tinggi secara non-stop yang menghasilkan panas ekstrem. Untuk menjaga stabilitas sistem dan mencegah kerusakan (overheating), dibutuhkan sistem pendingin berbasis air (water-based cooling).

Melihat beban konsumsi air dalam skala industri raksasa ini, BP Batam bergerak cepat melakukan langkah mitigasi sejak dini agar industri digital ini tidak membebani fasilitas publik.

Ketegasan BP Batam: Skema Kerja Sama Ketat dan Opsi SWRO

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup mata terhadap kendala infrastruktur tersebut. Menurutnya, setiap proposal investasi yang masuk selalu dikaji secara transparan dengan membeberkan realita keterbatasan daerah, khususnya terkait keandalan listrik dan air.

"Data center-nya belum jalan, air sudah kering, ya jadi begini. Semua projek proposal yang masuk kita memberikan gambaran dari sisi kendala kita di daerah. Kemarin ada (investor) yang masuk itu besar sekali nilainya, yang kita diskusikan itu adalah bahwa keandalan listrik dengan keandalan air tersebut," ujar Amsakar, Jumat (10/06/2026).

Amsakar menjelaskan bahwa BP Batam tidak memberikan karpet merah begitu saja tanpa komitmen pembenahan dari pihak investor. Ada beberapa poin krusial dan syarat ketat yang wajib dipenuhi oleh para pelaku industri data center yaitu

Investasi Pipanisasi Mandiri:
BP Batam secara jujur mengakui adanya kendala pada sarana kelistrikan dan perpipaan dari satu titik ke titik lain. Investor ditantang dan diwajibkan mendanai sendiri pembangunan jaringan pipa (pipanisasi) tersebut.

Kewajiban Teknologi SWRO (Sea Water Reverse Osmosis):
Menyadari cadangan air baku Batam yang terus menyusut ke depan, investor data center diwajibkan membangun sistem pengolahan air laut menjadi air tawar (SWRO) secara mandiri agar tidak mengganggu jatah air bersih untuk kebutuhan domestik warga.

Transfer Aset (BOT): Fasilitas infrastruktur air yang dibangun oleh investor nantinya akan diserahkan kembali menjadi aset pemerintah setelah jangka waktu tertentu.

"Kita prinsipnya enggak masalah, tetapi kami ada problem dalam persoalan sarana, terutama pipanisasi dari titik A ke titik B yang angkanya sekian. Anda siap berinvestasi di sana? Oke. Nah, lalu kemudian cadangan air kita ini pasti akan berkurang ke depan. Anda siap untuk SWRO? Oke," beber Amsakar menjabarkan isi negosiasi ketat dengan investor.

Menjaga Kepercayaan Publik dan Marwah Investasi

Amsakar menambahkan, langkah antisipasi ini sangat krusial. Jika Batam menerima investasi tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap ketersediaan air dan listrik masyarakat, hal itu justru akan menjadi bumerang yang merusak citra Batam di mata nasional maupun internasional.

"Artinya kita mendapatkan nilai justru dari investasi yang baru itu. Untuk pipanisasinya saja tahap awal dia sudah bersedia. Jadi insyaallah dengan pembicaraan problem kepada mereka dan ternyata mereka sepakat untuk menyelesaikan problem itu, kita merasa nyaman," tuturnya.

Di bawah komandonya, BP Batam memastikan bahwa seluruh mitigasi risiko telah dihitung secara matang agar ambisi menjadikan Batam sebagai motor ekonomi nasional tidak mengorbankan hak dasar masyarakat.

"Kalau seandainya mereka kita terima investasi, lalu kemudian air ini tidak ada langkah antisipasi, listrik tidak ada langkah antisipasi, nanti akan mengurangi kepercayaan publik terhadap harapan kita untuk menjadikan Batam ini sebagai lokomotif investasi nasional. Jadi plus minusnya sudah dibahas dan langkah antisipasinya juga sudah dibahas," pungkas Amsakar.

Dengan komitmen penerapan teknologi ramah lingkungan seperti SWRO oleh para investor, diharapkan industri digital Batam dapat terus melaju kencang tanpa harus membuat keran air di rumah-rumah warga menjadi kering.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :