Amsakar Pastikan Data Center Tak Kurangi Jatah Air dan Listrik Warga Batam
Walikota Batam yang juga menjabat sebagai kepala BP Batam, Amsakar Achmad saat diwawancarai di DPRD Kota Batam, Rabu 8 Juli 2026. (Foto: Jamaluddin/Batamnews)
Batam, Batamnews – Gelombang investasi pusat data (data center) dan industri kecerdasan buatan (AI) di Batam memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Industri digital yang membutuhkan pasokan listrik besar dan air dalam jumlah tinggi untuk sistem pendingin server dikhawatirkan akan mengurangi ketersediaan utilitas bagi warga.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memastikan pemerintah telah mengantisipasi persoalan itu sejak tahap awal pembahasan investasi. Menurutnya, setiap investor diwajibkan memaparkan secara rinci kebutuhan listrik dan air bersih sebelum proyek memperoleh persetujuan.
"Kalau kita menerima investasi tanpa mengantisipasi kebutuhan air dan listrik, justru akan mengurangi kepercayaan publik terhadap cita-cita menjadikan Batam sebagai lokomotif investasi nasional," kata Amsakar usai rapat paripurna DPRD Kota Batam, Rabu (8/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah derasnya arus investasi digital di Batam yang diperkirakan mencapai Rp120 triliun. Di sisi lain, Batam masih menghadapi tantangan keterbatasan sumber air baku dan belum memiliki tambahan waduk baru dalam beberapa tahun terakhir.
Amsakar menjelaskan, keandalan utilitas menjadi salah satu syarat utama dalam setiap pembahasan investasi. Pemerintah tidak hanya mempertimbangkan besarnya nilai investasi, tetapi juga memastikan kesiapan infrastruktur pendukung agar tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.
Ia mencontohkan proses pembahasan investasi DayOne, salah satu proyek data center berskala besar di Batam. Dalam pembahasan itu, pemerintah secara terbuka menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, termasuk persoalan distribusi air bersih di sejumlah kawasan.
"Yang kami diskusikan justru keandalan listrik dan keandalan air bersih," ujarnya.
Jika kapasitas utilitas di lokasi proyek belum memadai, kata Amsakar, investor diminta ikut membangun infrastruktur pendukung, mulai dari jaringan perpipaan hingga peningkatan kapasitas penyediaan air bersih.
"Kami sampaikan bahwa ada persoalan distribusi air dari titik A ke titik B. Kami tanyakan apakah mereka siap berinvestasi sekaligus membantu penyelesaiannya. Mereka menyatakan siap," kata Amsakar.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah membahas potensi berkurangnya cadangan air baku di masa mendatang. Para investor, lanjutnya, menyatakan kesediaan untuk ikut menyiapkan solusi apabila kapasitas penyediaan air perlu ditingkatkan.
Infrastruktur yang dibangun investor nantinya akan diserahkan kepada pemerintah setelah masa kerja sama berakhir sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, Amsakar menegaskan keberadaan data center tidak akan mengurangi pasokan air maupun listrik bagi masyarakat.
"Seluruh plus-minusnya sudah dibahas, termasuk langkah antisipasinya," ujarnya.
Amsakar juga membantah anggapan bahwa gangguan distribusi air di sejumlah kawasan, seperti Sengkuang dan Batuampar, dipicu oleh pembangunan data center. Menurutnya, sebagian besar proyek pusat data di Batam bahkan belum memasuki tahap operasional.
"Data center belum berjalan, airnya sudah kering. Jangan disalahkan," katanya sembari menjelaskan bahwa persoalan distribusi air merupakan masalah lama yang harus diselesaikan melalui penguatan infrastruktur penyediaan air bersih.
Selain persoalan utilitas, Amsakar turut menanggapi anggapan bahwa investasi data center tidak banyak menyerap tenaga kerja karena tidak bersifat padat karya seperti industri manufaktur.
Menurutnya, investasi digital harus dilihat dari dampak ekonomi yang lebih luas, bukan hanya dari jumlah tenaga kerja yang direkrut secara langsung.
"Yang masuk sesungguhnya investasi berbasis informasi. Dampaknya adalah multiplier effect, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia karena akan ada kebutuhan pendidikan dan pelatihan untuk mengelolanya," ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak ekonomi bahkan sudah dirasakan sejak tahap pembangunan proyek. Pembangunan data center tetap membutuhkan lahan, jasa konstruksi, hingga tenaga kerja.
Karena itu, pemerintah kini memprioritaskan penyiapan sumber daya manusia agar mampu memenuhi kebutuhan industri digital yang terus berkembang di Batam.
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan SDM agar mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja yang ada," kata Amsakar.
Menurutnya, investasi data center juga akan memberikan efek berganda bagi berbagai sektor ekonomi, mulai dari kuliner, transportasi, properti, perdagangan jasa, pariwisata hingga UMKM.
"Tidak hanya tenaga kerja formal yang mendapatkan manfaat, sektor informal juga akan tumbuh. Transportasi hidup, properti bergerak, perdagangan jasa berkembang, pariwisata dan kuliner juga ikut tumbuh," ujarnya.
Amsakar menambahkan, pergeseran investasi Batam dari industri manufaktur menuju industri berteknologi tinggi sejauh ini tidak berdampak pada meningkatnya angka pengangguran.
"Berdasarkan pengalaman dua tahun terakhir, angka pengangguran justru menunjukkan tren menurun, meski penurunannya belum signifikan," katanya.
Ia menegaskan, transformasi Batam menuju pusat industri digital diyakini tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga hak masyarakat atas ketersediaan air bersih dan pasokan listrik yang andal.

Komentar Via Facebook :