Catatan Hari Keluarga Nasional
Saatnya Menyelamatkan Keluarga Kita dari Krisis yang Tak Selalu Terlihat
Fatmawat, S.Pd.I. (Foto: dok.Pribadi)
Oleh: Fatmawat, S.Pd.I
"Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap manusia. Dari sanalah karakter, nilai, dan masa depan bangsa dibentuk."
Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional sebagai momentum untuk mengingat kembali bahwa pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Fondasi utama sebuah negara sesungguhnya berada pada kualitas keluarganya. Sebab, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seorang anak belajar mengenal kasih sayang, tanggung jawab, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan.
Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, perubahan sosial, dan tekanan ekonomi, keluarga Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak selalu tampak di permukaan. Persoalan keluarga saat ini bukan lagi sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bagaimana menjaga keutuhan hubungan, kesehatan mental, dan kualitas pengasuhan di tengah perubahan zaman.
Dari sudut pandang psikologi keluarga, banyak konflik rumah tangga berawal dari menurunnya kualitas komunikasi. Ironisnya, semakin canggih teknologi komunikasi, semakin sedikit anggota keluarga yang benar-benar saling berbicara. Tidak sedikit keluarga yang tinggal di bawah satu atap, tetapi hidup dalam dunia masing-masing. Ayah sibuk dengan pekerjaan, ibu disibukkan oleh urusan rumah tangga maupun pekerjaan, sementara anak-anak tenggelam dalam layar gawai. Akibatnya, kebutuhan emosional yang seharusnya dipenuhi oleh keluarga menjadi terabaikan. Rasa kesepian, kurangnya empati, hingga konflik berkepanjangan menjadi konsekuensi yang sering muncul.
Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian dari akhlak keluarga. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19 agar suami dan istri bergaul dengan cara yang baik (mu'asyarah bil ma'ruf). Rasulullah SAW pun memberikan teladan melalui kebiasaan beliau berdialog, mendengarkan, bercanda, dan menunjukkan kasih sayang kepada istri, anak, maupun cucunya. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang harmonis dibangun bukan hanya dengan kecukupan materi, tetapi juga dengan kehadiran emosional.
Persoalan lain yang semakin banyak menjadi perhatian para psikolog adalah fenomena fatherless. Istilah ini bukan semata-mata menggambarkan anak yang kehilangan ayah karena wafat atau perceraian, melainkan juga kondisi ketika seorang ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional. Banyak ayah bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarga, namun kehilangan kesempatan untuk membangun kedekatan dengan anak-anaknya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepercayaan diri, kemampuan sosial, pengendalian emosi, hingga prestasi akademik anak. Dalam Islam, Rasulullah SAW memberikan teladan sebagai sosok ayah yang penuh kasih sayang. Beliau menggendong cucunya, mencium anak-anak, bermain bersama mereka, bahkan memendekkan salat ketika mendengar tangisan bayi agar tidak memberatkan ibunya. Keteladanan tersebut mengajarkan bahwa kehadiran ayah tidak dapat digantikan oleh materi semata.
Di sisi lain, revolusi digital juga melahirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Gawai kini sering kali berubah fungsi menjadi "pengasuh" bagi anak-anak. Tidak sedikit balita yang makan sambil menonton video, bermain tanpa interaksi dengan orang tua, hingga menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar. Dari perspektif psikologi perkembangan, penggunaan gawai yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan bahasa, konsentrasi, pengendalian emosi, hingga keterampilan sosial anak.
Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga dan dididik. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6 agar setiap mukmin menjaga diri dan keluarganya dari kebinasaan. Amanah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga pendidikan akhlak, pembiasaan ibadah, serta pendampingan dalam menghadapi tantangan zaman digital.
Selain itu, tekanan ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketahanan keluarga Indonesia. Kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan tuntutan kebutuhan sehari-hari sering kali memicu stres yang kemudian berubah menjadi pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian. Padahal, akar persoalannya tidak selalu terletak pada kurangnya penghasilan, melainkan pada lemahnya kemampuan mengelola tekanan secara bersama-sama.
Dalam psikologi keluarga dikenal konsep family resilience atau ketahanan keluarga, yaitu kemampuan seluruh anggota keluarga untuk saling mendukung ketika menghadapi kesulitan. Keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan masalah melalui komunikasi, musyawarah, saling menghargai, dan kerja sama.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah menurunnya pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Banyak orang tua memberikan perhatian besar terhadap prestasi akademik anak, namun kurang memberi ruang bagi pembentukan akhlak, adab, dan nilai-nilai kehidupan. Anak mungkin mahir menggunakan teknologi, tetapi belum tentu terbiasa berkata jujur, meminta maaf, menghormati orang tua, atau bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap orang tua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Rumah tetap menjadi madrasah pertama, sedangkan orang tua merupakan guru yang paling lama mendampingi anak.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, keluarga juga perlu mulai memberi perhatian lebih terhadap kesehatan mental. Masih banyak masyarakat yang menganggap stres, kecemasan, atau depresi semata-mata sebagai lemahnya keimanan. Padahal kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam Islam, ikhtiar menjaga kesehatan jiwa dapat dilakukan secara seimbang melalui penguatan iman, doa, kesabaran, serta mencari pertolongan kepada tenaga profesional ketika diperlukan. Pendekatan spiritual dan pendekatan ilmiah bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan.
Momentum Hari Keluarga Nasional hendaknya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Peringatan ini seharusnya menjadi ajakan bagi setiap keluarga Indonesia untuk kembali menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Menyediakan waktu makan bersama tanpa gawai, membangun kebiasaan berdialog setiap hari, salat berjamaah di rumah, membaca Al-Qur'an bersama, hingga saling mengapresiasi antaranggota keluarga merupakan langkah-langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi keharmonisan rumah tangga.
Pada akhirnya, keluarga yang kuat tidak dibangun oleh kemewahan rumah, tingginya pendapatan, ataupun kecanggihan teknologi. Keluarga yang kuat lahir dari keimanan yang kokoh, komunikasi yang sehat, kasih sayang yang tulus, serta keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ketika keluarga menjadi tempat yang paling aman, paling nyaman, dan paling bermakna bagi setiap anggotanya, maka di sanalah masa depan Indonesia sedang dipersiapkan.
Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa membangun bangsa harus dimulai dari membangun keluarga. Sebab, keluarga yang tangguh akan melahirkan generasi yang berakhlak, berdaya saing, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
___________
Penulis adalah Founder Bintan Islamic Parenting (BIP) dan Seorang Ibu Empat Orang Anak

Komentar Via Facebook :