Curhat Peserta Paduan Suara Kepri: Anggaran 1,8 M dapat Tiket Fiktif, Janji Palsu, dan Mimpi Pupus di Ambang Gerbang Pesparawi
Tangkapan layar postingan dari anggota paduan suara Kepri.
Batam, Batamnews – Kabar mengejutkan datang dari kontingen Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang gagal memberangkatkan tim Paduan Suara Wanita asal Tanjungpinang dalam ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat.
Meskipun pemerintah provinsi telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp1,8 miliar untuk keberangkatan kontingen, rombongan tersebut justru terkatung-katung di Bandara Soekarno-Hatta dan akhirnya batal bertolak.
Nahasnya, kegagalan ini diduga kuat akibat kelalaian panitia Lembaga Pengembangan Pembinaan dan Pelatihan Daerah (LPPD) Kepri yang tidak mengecek ulang tiket, serta dugaan penipuan yang dilakukan oleh pihak travel.
Baca juga: Kronologi Penelantaran 38 Peserta Pesparawi Kepri Hingga Viral Nyanyi di Bandara Soetta
Kisah pilu ini viral setelah akun media sosial @chorister.id mengunggah curahan hati salah satu anggota tim. Dalam unggahan tersebut, mereka mengaku "ditelantarkan dengan tiket bodong" setelah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
"Kami tim Paduan Suara Wanita Kepri dari Kota Tanjungpinang mengalami penelantaran dengan tiket bodong. Kami semestinya diberangkatkan hari Rabu, 24 Juni 2026, jam 4 sore. Namun, tiket yang dipesan oleh LPPD Kepri melalui travel (Vivi dan Hendra) ternyata tidak valid," tulis akun tersebut, di kutip 28 Juni 2026.
Kronologi kejadian bermula ketika peserta diberi tahu bahwa tiket untuk seluruh kontingen Kepri yang terdiri dari 3 kategori—dari Batam ke Jakarta, lalu ke Manokwari—adalah tiket bodong. Para peserta yang sedianya terbang pada 24 Juni pun panik.
Mereka berusaha menghubungi panitia LPPD agar bisa segera diberangkatkan, mengingat masih ada jadwal pada 25 Juni.
Pihak travel sempat berjanji akan memberangkatkan mereka pada 25 Juni, namun hingga H-1, para peserta belum menerima nomor kode booking atau e-tiket yang sah. Baru pada pukul 14.30 WIB, mereka mendapatkan kode booking untuk penerbangan Batam–Jakarta. Namun, tiket sambungan menuju Manokwari masih belum ada kepastian.
Dengan terpaksa, rombongan terpecah menjadi dua sesi penerbangan (16.30 dan 19.00 WIB) menuju Jakarta. Sesampai di Ibu Kota, mereka masih belum mendapat kabar tiket lanjutan. Pihak travel justru mengarahkan mereka bolak-balik dari Terminal 2 ke Terminal 3, berpindah dari Batik Air ke Garuda Indonesia.
Saat tiba di Terminal 3 Bandara Soetta, para peserta dihadapkan pada kenyataan pahit. Pihak maskapai menyatakan bahwa check-in bagasi sudah ditutup. Ketika kode booking dicek, ternyata tiket tersebut belum terbayar oleh pihak travel.
"Di situ waktu terakhir kami yang tidak mungkin lagi bisa berangkat. Kami mendesak pertanggungjawaban travel, namun mereka tidak mampu memberikan tiket," tulis mereka dalam curhatan yang kini viral.
Ironisnya, kontingen ini sebelumnya dilepas secara resmi oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, di Golden Prawn, Batam, pada Selasa (16/6) lalu. Kini, para peserta yang dilepas dengan penuh kebanggaan itu justru harus berakhir di ruang tunggu bandara dengan seribu tanya.
Pesparawi Nasional XIV sendiri mengusung tema besar “Aku Hendak Memuji TUHAN Pada Segala Waktu” (Mazmur 34:2a) dengan sub tema “Puji-Pujian Membawa Perdamaian dan Persaudaraan di Tanah Papua”. Acara yang rencananya dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI ini menjadi ajang prestisius bagi umat Kristiani di seluruh Indonesia.
Yang menjadi sorotan publik adalah tersedianya anggaran sebesar Rp1,8 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Kepri untuk mendukung partisipasi kontingen. Namun, nasib para peserta yang seharusnya menjadi duta daerah justru terbengkalai karena dugaan kelalaian prosedur.
Hingga berita ini diturunkan, pihak LPPD Kepri dan panitia pelaksana belum memberikan keterangan resmi. Begitu pula dengan pihak travel yang disebut-sebut sebagai Vivi dan Hendra, belum dapat dimintai konfirmasi. Rombongan paduan suara asal Tanjungpinang itu hingga kini masih tertahan di Jakarta, menunggu kepastian dan pertanggungjawaban.

Komentar Via Facebook :