Dapur MBG Berdiri di Kawasan Prostitusi Sintai Batam, Mahasiswa Heran: Kenapa di Sana?
50 mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Putera Batam melakukan audiensi dengan Komisi IV DPRD Kota Batam, Selasa, 23 Juni 2026.
Batam, Batamnews - Sebuah bangunan bercat putih dan biru berdiri di kawasan Sintai, Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji. Dari luar, tampak seperti fasilitas pelayanan publik biasa.
Ternyata, itu adalah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pusat pengolahan makanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lokasi itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai pusat prostitusi terbesar di Batam. Keberadaan dapur MBG di sana memicu pertanyaan.
Pertanyaan itu mengemuka saat 50 mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Putera Batam melakukan audiensi dengan Komisi IV DPRD Kota Batam, Selasa, 23 Juni 2026.
Amandha Felishia, salah satu perwakilan mahasiswa, mempertanyakan alasan penempatan dapur MBG di kawasan yang selama ini identik dengan praktik prostitusi dan berada dalam pengawasan sosial.
"Kenapa bisa ada dapur SPPG di Sintai? Sintai ini kan awalnya pusat rehabilitasi, tapi sekarang dikenal sebagai tempat prostitusi. Tentu ini menjadi pertanyaan bagi kami," ujar Amandha dalam audiensi itu.
Menurut dia, anggota dewan yang hadir tidak memberi jawaban memuaskan. Bahkan, beberapa mengaku tidak tahu keberadaan dapur MBG tersebut.
"Ketika kami pertanyakan, mereka bilang tidak tahu, tidak ikut campur, tidak tahu-menahu. Padahal seharusnya mereka mengetahui. Menurut kami, dapur SPPG tidak seharusnya berada di sana," tegasnya.
Kepala Bidang Ekonomi Sosial Dinas Sosial Kota Batam, Zul Arif, yang juga hadir dalam audiensi, mengatakan persoalan itu sebaiknya ditanyakan ke organisasi perangkat daerah (OPD) terkait atau pengelola aset pemerintah daerah.
Menurut Zul, kawasan Sintai merupakan aset Pemerintah Kota Batam, bukan aset Dinas Sosial. Kewenangan pemanfaatan aset dan keberadaan fasilitas MBG di lokasi itu berada di instansi berwenang.
"Kalau saya ditanya, saya tidak tahu. Saya tidak mengurus MBG, saya juga tidak mengurus Sintai," kata Zul Arif.
Keberadaan dapur MBG di Sintai menjadi perhatian karena program itu berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak sekolah. Dapur SPPG setiap hari memasok ribuan porsi makanan kepada penerima manfaat.
Kebersihan lingkungan dan keamanan pangan menjadi faktor penting dalam operasional dapur. Lokasi yang berdampingan dengan kawasan prostitusi dan penjualan minuman beralkohol memunculkan pertanyaan tentang pertimbangan pemilihan tempat.
Sintai memiliki sejarah panjang. Kawasan itu awalnya dibangun sebagai Pusat Rehabilitasi Sosial Non-Panti (PRSNP) untuk penanganan masalah sosial. Namun sejumlah bangunan beralih fungsi menjadi tempat hiburan malam dan prostitusi.
Status pengelolaan sebagian lahan dan bangunan di kawasan itu masih menjadi perdebatan. Sejumlah pihak menyebut itu aset pemerintah, tetapi pemanfaatan oleh berbagai pihak selama bertahun-tahun membuat pengawasannya kerap dipertanyakan.
Pada 29 Juni 2025, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menghadiri pelantikan Pengurus PRSNP sekaligus peresmian fasilitas Badan Gizi Nasional (BGN) Teluk Pandan—yang berada tidak jauh dari Sintai.
Saat itu, Amsakar mengatakan pembentukan PRSNP bertujuan memberi perlindungan dan perhatian kepada warga binaan, termasuk mencegah praktik sosial menyimpang seperti tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
"Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti ini lahir dengan tujuan agar warga binaan mendapat atensi dari sisi kesehatan, dari sisi keselamatan. Termasuk bagaimana menekan praktik-praktik yang tidak benar seperti TPPO," kata Amsakar.
Baca juga: Imigrasi Batam Tunda Keberangkatan 392 Calon Pekerja Migran Nonprosedural Selama Mei 2026
Ia juga mengingatkan Batam rentan terhadap kasus perdagangan orang, sehingga diperlukan sinergi seluruh pihak dalam pengawasan dan pembinaan.
"Batam ini juga rentan dengan trafficking, tindak pidana perdagangan orang. Kita tentu akan memberikan dukungan agar warga mendapat perlakuan yang layak dan bisa hidup lebih baik," ujarnya.
Kini, di tengah kawasan yang justru ingin ditertibkan itu, berdiri dapur MBG—program nasional untuk meningkatkan gizi masyarakat. Ironi yang masih belum terjawab.
Komentar Via Facebook :