Imbas Tambang Pasir dan Proyek PSN: Laut Teluk Mata Ikan Berlumpur Tebal, Nelayan dan Wisata Pantai Nemo Menjerit

Imbas Tambang Pasir dan Proyek PSN: Laut Teluk Mata Ikan Berlumpur Tebal, Nelayan dan Wisata Pantai Nemo Menjerit

Kondisi air laut di sekitaran pantai berlumpur. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews — Aktivitas tambang pasir pesisir dan pengerjaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Data Centre di kawasan Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar. Laut yang dulunya jernih kini berubah menjadi kubangan lumpur pekat, memukul telak perekonomian nelayan dan pelaku pariwisata lokal di sekitar Pantai Nemo.

Berdasarkan keterangan langsung dari Pemilik sekaligus Pengelola Sea World Gallery Batam (Pantai Nemo Aquarium Mini), kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini sudah masuk dalam kategori hancur lebur dan berdampak pada seluruh lapisan masyarakat sekitar.

Berdasarkan dokumentasi video yang ada di lokasi, kondisi perairan dan tanah di sekitar Teluk Mata Ikan tampak sangat memprihatinkan. Air laut tidak lagi jernih, melainkan berwarna cokelat pekat.

Endapan lumpur tebal menutupi dasar laut dan pesisir pantai. Material sedimen tanah ini menyebar luas mengikuti arus, merusak ekosistem terumbu karang, dan membuat perairan di sekitar lokasi wisata menjadi keruh tak layak renang.

Dampak langsung dari kerusakan ini sangat dirasakan oleh sektor pariwisata setempat. Pengelola Sea World Gallery Batam menegaskan bahwa meskipun kawasan wisata tidak ditutup, operasional mereka menjadi sangat lumpuh.

"Pantai tidak tutup, tetapi banyak tamu yang komplain karena air pantainya berlumpur. Gallery kita juga tidak tutup, tapi kami sangat terhambat untuk pergantian air kolam dan akuariumnya. Air lautnya berlumpur, sama sekali tidak bisa dipakai buat pergantian air kolam," ungkap Pengelola Sea World Gallery Batam.

Saking parahnya kondisi perairan akibat lumpur tebal, habitat satwa laut di area tersebut tidak lagi aman. Pada pagi hari ini, tim dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus turun tangan melakukan evakuasi.

Satwa penyu yang sebelumnya berada di area konservasi mini akuarium terpaksa direlokasi dan dilepasliarkan (release) ke perairan Barelang yang lebih bersih.

Langkah ini diambil karena air di sekitar galeri Teluk Mata Ikan sudah tidak memungkinkan lagi untuk mendukung kehidupan satwa laut tersebut.

Selain sektor pariwisata, masyarakat nelayan di Teluk Mata Ikan adalah pihak yang paling menderita. Tangkapan ikan merosot tajam karena rusaknya ekosistem laut tempat mereka mencari nafkah. Ironisnya, di tengah keterpurukan ini, masyarakat kebingungan harus mencari keadilan ke mana.

Pihak pengelola wisata menyebutkan bahwa keluhan sudah disampaikan kepada perwakilan KKP yang datang saat evakuasi penyu. Namun, jawaban yang diterima justru membuat warga semakin pasrah.

"Tadi pun kita sudah pertanyakan ke KKP, tapi ternyata penindakan proyek tersebut sudah bukan wewenang KKP lagi. Masyarakat nelayan di Teluk Mata Ikan sekarang sudah tidak tahu lagi mau mengadu ke mana," tambahnya.

Kini, warga Sambau dan Nongsa hanya bisa berharap adanya campur tangan pemerintah pusat dan instansi terkait lainnya untuk segera menghentikan pencemaran ini sebelum laut Teluk Mata Ikan benar-benar mati dan mata pencaharian warga pesisir hilang sepenuhnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :