"Kami Tak Perlu Pusing Makan Siang": Keluhan Pelajar SMAN 4 Batam Usai Program MBG Dihentikan Sementara

"Kami Tak Perlu Pusing Makan Siang": Keluhan Pelajar SMAN 4 Batam Usai Program MBG Dihentikan Sementara

Pelajar di SMA Negeri 3 Batam, Jumat 12 Juni 2026 (Jamaluddin/Batamnews)

Nurjali

Batam, Batamnews -  Seorang siswa kelas XI di SMAN 4 Batam, Embun Gardina Rahim, mengaku program Makan Bergizi Gratis (MBG) cukup membantu kebutuhan makan para pelajar selama berada di sekolah.

Embun mengatakan, dengan adanya program tersebut, para siswa tidak perlu lagi memikirkan makan siang saat di sekolah.

"Menurut saya MBG cukup membantu karena kami tidak perlu lagi memikirkan makan siang saat di sekolah. Tapi tetap saja kalau makanannya terlihat kurang menarik atau tidak sesuai selera, biasanya lebih memilih jajan," ujar Embun, Jumat, 12 Juni 2026.

Sejak program dihentikan sementara, kata Embun, para siswa kembali membawa bekal dari rumah atau membeli makanan di kantin sekolah.

Baca juga: MBG Berhenti di SMAN 3 Batam: 200 Porsi Makanan Terbuang Setiap Hari, Sekolah Minta Anggaran Dialihkan

Penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 3 Batam memunculkan pandangan berbeda di lingkungan pendidikan.

Pihak sekolah menilai program tersebut menyisakan sejumlah persoalan, mulai dari pemborosan makanan hingga terganggunya efektivitas pembelajaran. Sebaliknya, sejumlah siswa mengaku merasakan manfaat langsung dari program itu dan berharap pelaksanaannya dapat dilanjutkan.

Program MBG di SMAN 3 Batam diketahui dihentikan sejak awal semester pada Januari 2026. Informasi penghentian sementara tersebut diterima sekolah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang meneruskan instruksi dari pemerintah pusat.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMAN 3 Batam, Becek Tang, mengatakan hingga kini pihak sekolah belum memperoleh kepastian mengenai kelanjutan program tersebut.

"Kami mendapat informasi penghentian sementara sejak awal semester ini. Suratnya dari pusat melalui SPPG, kemudian disampaikan ke sekolah. Sampai sekarang kami masih menunggu informasi selanjutnya," kata Becek.

Menurut dia, pihak SPPG sempat menyampaikan bahwa penghentian sementara diduga berkaitan dengan perbaikan fasilitas dapur. Namun, sekolah tidak mengetahui secara rinci alasan penghentian tersebut.

Sebelumnya, distribusi MBG untuk SMAN 3 Batam sempat dialihkan dari SPPG Buana Vista ke SPPG Legenda Malaka sebagai bagian dari penyesuaian wilayah layanan.

Di balik pelaksanaan program tersebut, sekolah mengungkap persoalan yang dinilai perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah, yakni tingginya jumlah makanan yang tidak dikonsumsi siswa.

Becek mengatakan hampir setiap hari terdapat antara 100 hingga 200 porsi makanan yang tersisa dan akhirnya tidak termanfaatkan.

"Hampir setiap hari ada lebih dari 100 sampai 200 porsi yang tersisa. Kami melihat itu menjadi mubazir. Selera anak-anak berbeda-beda sehingga tidak semua makanan yang dibagikan dikonsumsi," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran negara apabila tidak diikuti evaluasi terhadap pola distribusi maupun sasaran penerima manfaat program.

Pihak sekolah bahkan menilai anggaran yang digunakan untuk MBG dapat dipertimbangkan untuk dialihkan ke sektor pendidikan atau diberikan secara langsung kepada siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan.

"Kalau kami boleh memilih, lebih baik dialokasikan ke pendidikan atau bantuan langsung kepada siswa yang membutuhkan. Daripada banyak makanan terbuang dan menjadi pemborosan anggaran," kata Becek.

Selain persoalan makanan yang tersisa, sekolah juga menyoroti dampak program terhadap kegiatan belajar mengajar. Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 1.700 orang, proses distribusi makanan setiap hari membutuhkan keterlibatan guru dalam pengaturan pembagian.

"Guru-guru yang turun langsung mengatur pembagian. Itu cukup memakan waktu dan berdampak pada efektivitas proses pembelajaran," ujarnya.

Sekolah juga mencatat adanya penurunan pendapatan pedagang kantin selama program berlangsung karena sebagian besar siswa memilih mengonsumsi makanan yang disediakan pemerintah.

Karena itu, pihak sekolah masih menunggu kejelasan mengenai rencana pelibatan kantin sekolah dalam pengelolaan MBG yang belakangan mulai diwacanakan pemerintah.

"Kami belum tahu mekanismenya seperti apa. Kalau nanti kantin dilibatkan, tentu perlu dipelajari dulu. Apakah efektif, bagaimana sistem pengelolaannya, dan seperti apa dampaknya," kata Becek.

Berbeda dengan pandangan sekolah, sejumlah siswa mengaku merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

"Kami berharap program ini bisa berjalan lagi karena selain membantu kebutuhan makan siswa, juga membuat kami lebih fokus belajar di sekolah," ujar salah seorang siswa.

Pandangan berbeda datang dari Merliana, orang tua siswa di SD Hang Tuah, Bengkong, Batam. Menurut dia, keberadaan maupun penghentian MBG tidak terlalu memengaruhi kebutuhan anaknya karena setiap hari tetap dibekali makanan dari rumah.

"Saya tetap memberikan anak saya bekal. Jadi ada MBG ataupun tidak, bagi saya sama saja," katanya.

Merliana menilai pelaksanaan program masih memiliki sejumlah kekurangan, mulai dari ketepatan waktu distribusi hingga kualitas makanan yang diterima siswa yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan harapan orang tua.

Menurut dia, anggaran yang digunakan untuk program tersebut dapat dipertimbangkan untuk dialihkan ke sektor pendidikan atau kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah yang lebih mendesak.

"Kalau memang dialihkan, saya berharap benar-benar untuk pendidikan atau sarana yang dibutuhkan masyarakat menengah ke bawah," ujarnya.

Baca juga: Ibu di Kanada Gugat OpenAI, Klaim ChatGPT Dorong Putrinya Bunuh Diri

Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Batam, Defri Frenaldi, menjelaskan bahwa penghentian layanan MBG untuk SMAN 3 Batam bukan terjadi pada Januari 2026, melainkan pada Maret 2026 karena SPPG yang selama ini melayani sekolah tersebut menjalani perbaikan fasilitas.

"SPPG yang melayani SMAN 3 diberhentikan sementara untuk perbaikan pada Maret, bukan Januari. Hingga Maret sekolah masih menerima MBG," kata Defri saat dikonfirmasi.

Menurut Defri, pemerintah telah menyiapkan skema pengalihan layanan ke SPPG lain agar program tetap berjalan. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana karena pihak sekolah memilih tidak menerima layanan MBG dari penyedia yang baru.

"Saat akan dialihkan ke SPPG lain, kepala sekolah menolak dan memilih tidak menerima MBG," ujarnya.

Defri juga mengungkapkan bahwa penghentian layanan tidak hanya terjadi di SMAN 3 Batam. Hingga saat ini, dari total 147 SPPG yang ada di Kota Batam, sebanyak 47 SPPG masih berhenti beroperasi sementara.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :