Indonesia Autism Summit 2026 Digelar di Batam, Lebih dari 650 Peserta Dorong Aksi Nyata untuk Inklusi Autisme

Indonesia Autism Summit 2026 Digelar di Batam, Lebih dari 650 Peserta Dorong Aksi Nyata untuk Inklusi Autisme

Qurniadi, Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam saat memberi Sambutan pembukaan Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26), di ballroom Harmoni One Hotel, Batam, Kamis, 11 Juni 2026. (Foto: Jamaluddin/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Suasana Ballroom Harmoni One Hotel Batam, Kamis (11/6/2026), dipenuhi semangat kolaborasi dan kepedulian terhadap isu autisme.

Ratusan peserta dari berbagai latar belakang berkumpul dalam pembukaan Indonesia Autism Summit 2026 (INAS26), forum internasional yang mengusung misi memperkuat kesadaran sekaligus mendorong aksi nyata bagi penyandang autisme.

Di antara para peserta tampak guru, dosen, dokter, psikolog, perawat, terapis, mahasiswa, pelajar, orang tua anak berkebutuhan khusus, hingga para biarawati duduk berdampingan. Beberapa anak autistik terlihat berinteraksi dengan pendamping mereka, sementara peserta lainnya saling berbagi pengalaman sebelum acara dimulai.

Lebih dari 650 orang hadir dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 11 hingga 13 Juni 2026 tersebut. Forum ini mempertemukan praktisi pendidikan, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, organisasi masyarakat, pembuat kebijakan, serta keluarga penyandang autisme dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Indonesia Autism Summit 2026 sekaligus Direktur PT Penawar Special Learning, Dr. Ruwinah Abdul Karim, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang autisme, tetapi juga mendorong lahirnya perubahan yang nyata.

“Kesadaran saja tidak cukup. Kita perlu bergerak menuju tindakan nyata dan perubahan yang dapat dirasakan oleh orang tua, guru, dan masyarakat. Ketika masyarakat memahami sebelum menilai, dan para pemimpin membuka akses yang setara bagi semua pihak, di situlah kesetaraan dapat terwujud,” ujar Ruwinah saat membuka acara.

Mengusung tema “Menggerakkan Kesadaran Autisme Menjadi Aksi Nyata”, INAS26 lahir dari keprihatinan terhadap masih banyaknya individu autistik yang menghadapi hambatan akibat lingkungan yang belum sepenuhnya menerima keberagaman.

Menurut Ruwinah, tantangan yang dihadapi keluarga penyandang autisme tidak berhenti pada proses pendidikan atau terapi semata. Dibutuhkan dukungan yang berkelanjutan dari sekolah, keluarga, lingkungan sosial hingga dunia kerja.

“Perjuangan orang tua sangat berat, namun di dalamnya juga terdapat harapan besar. Pusat layanan saja tidak cukup karena individu autistik akan tumbuh di sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta nantinya kembali berperan dalam kehidupan sosial,” katanya.

PT Penawar Special Learning yang dipimpinnya saat ini telah memiliki 20 cabang di berbagai daerah di Indonesia, termasuk tiga cabang di Kota Batam, dan selama bertahun-tahun aktif mendampingi keluarga serta anak-anak autistik.

Selama pelaksanaan summit, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan mulai dari konferensi ilmiah, diskusi lintas disiplin, presentasi hasil penelitian, hingga lokakarya yang memberikan strategi praktis bagi orang tua, guru, terapis, dan tenaga profesional.

Selain itu, penyelenggara juga menghadirkan pameran produk dan layanan terkait autisme, sesi konsultasi dengan para spesialis, serta ruang interaksi langsung bersama individu neurodivergen. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperluas pemahaman sekaligus memperkuat budaya inklusi di tengah masyarakat.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Batam, Qurniadi, yang hadir mewakili Pemerintah Kota Batam, menilai forum ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pendidikan inklusif, khususnya di jenjang perguruan tinggi.

Menurutnya, semakin banyak individu autistik yang berhasil menamatkan pendidikan menengah dan melanjutkan studi ke universitas. Namun tantangan terbesar yang mereka hadapi bukan pada kemampuan akademik, melainkan akses dan dukungan lingkungan.

“Tantangannya justru akses, adaptasi lingkungan, interaksi sosial, dan dukungan yang tersedia. Perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi lingkungan yang inklusif dan ramah terhadap neurodiversitas. Mahasiswa autistik memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya,” ujar Qurniadi.

Ia menegaskan bahwa sistem pendukung yang kuat harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari kebijakan kampus, peran dosen, dukungan teman sebaya, layanan pendampingan, keterlibatan keluarga, hingga pemanfaatan teknologi.

Menurutnya, kampus yang mampu menciptakan ruang belajar yang inklusif tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa autistik, tetapi juga menghasilkan lulusan yang lebih adaptif, kreatif, dan siap menghadapi keberagaman di dunia kerja.

Meski perhatian terhadap autisme di Indonesia terus meningkat, Qurniadi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan data, minimnya tenaga ahli, belum meratanya layanan, hingga rendahnya literasi masyarakat terkait autisme.

“Dengan penguatan pendidikan inklusif dan sistem dukungan yang lebih baik, individu autistik dapat berkembang secara optimal serta berkontribusi penuh dalam kehidupan sosial, pendidikan, maupun dunia kerja,” katanya.

Melalui Indonesia Autism Summit 2026, para peserta berharap lahir berbagai gagasan dan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, sehingga penyandang autisme memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan masyarakat.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :