Hari Ini 4 Juni 2026 Rupiah Jatuh ke Rp18.023, DPR Desak BI dan Pemerintah Segera Bergerak

Hari Ini 4 Juni 2026 Rupiah Jatuh ke Rp18.023, DPR Desak BI dan Pemerintah Segera Bergerak

ilustrasi (freepik)

Nurjali

Batam, Batamnews – Kisah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini memasuki babak baru. Pada pembukaan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, nilai tukar mata uang Garuda akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah terpantau merosot 0,32 persen atau 57 poin, membuatnya berdiri di posisi Rp18.023 per dolar AS. Penurunan ini, menurut para pelaku pasar, sudah lama tercium baunya.

"Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS," ujar analis pasar uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, seperti dikutip, Kamis, 4 Juni 2026.

Baca juga: APINDO Batam Apresiasi Penyederhanaan Dokumen PPFTZ oleh Bea Cukai

Lukman bercerita bahwa penguatan dolar AS alias greenback kali ini dipicu oleh dua hal besar. Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat investor dunia berlindung ke dolar. Kedua, data ekonomi Amerika Serikat yang ternyata lebih baik dari dugaan.

Ia merinci, indeks dolar AS saat ini bergerak di kisaran 99,44-99,52, menguat 0,30 persen. Laporan bulanan dari ADP menyebutkan pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta AS pada Mei 2026 mencapai 122 ribu. 

Itu adalah lompatan terbesar sejak Januari 2025. Selain itu, data sektor jasa dari ISM juga tercatat lebih perkasa dari perkiraan.

Dengan sentimen yang masih buruk terhadap rupiah, Lukman menilai mata uang ini memang tengah mendekati level psikologi barunya.

Di tengah kegelisahan pasar, Menteri Keuangan Purbaya mencoba menenangkan. Menurutnya, meski tembus Rp18.000, angka itu masih masuk dalam perhitungan asumsi APBN 2026.

Ia menjelaskan, pemerintah memang menetapkan asumsi nilai tukar di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Namun, berbagai skenario penyesuaian, termasuk jika harga BBM naik tinggi, sudah dihitung.

"Pada waktu harga BBM naik tinggi kan kita hitung di situ adjustment nya cukup tinggi. Tapi basically fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang," kata Purbaya usai rapat paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Menkeu juga mengakui bahwa pelemahan rupiah membuat pembayaran kupon utang dalam rupiah ikut membengkak. Namun, karena kupon bersifat tetap (fixed rate), semuanya masih dalam rentang kalkulasi pemerintah.

Baca juga: PPh Penulis Turun dari 15% Jadi 1,5%, Pemerintah Resmi Beri Insentif Final 2026

Cerita berbeda datang dari DPR RI. Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal meminta pemerintah dan Bank Indonesia untuk tidak menunggu terlalu lama. Ia menilai koordinasi fiskal dan moneter harus segera diperkuat.

"DPR merekomendasikan kepada pemerintah terutama Kementerian Keuangan untuk segera melakukan konsolidasi fiskal moneter dengan Bank Indonesia. Kita kan sudah memahami dari tahun ke tahun bagaimana intervensi BI melakukan operasi moneter ketika terjadi fluktuasi rupiah," tegas Cucun dalam konferensi pers.

Ia mengingatkan bahwa pemerintah sebenarnya punya instrumen, seperti yang diatur dalam Undang-Undang P2SK. Yang terpenting sekarang adalah eksekusi cepat.

"Sekarang yang harus dilakukan segera, mau siapa yang inisiatif. Mau Menteri Keuangan atau BI melakukan konsolidasi fiskal dan moneter dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah ini, itu penting," pungkasnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :